|
|
Wednesday, August 20, 2003
::A Story from Binara::
#
dB told the story @ 7:00 PM
Saturday, August 16, 2003
scene #2 (EDITED)
Pikiranku lagi buntu. Sampai-sampai tadi pagi aku bangun terlambat. Konsentrasiku pun ikutan buyar dan kerjaanku jadi tidak beres. Perasaan itu datang lagi, perasaan takut menghadapi apa yang akan terjadi padaku nantinya. Sialnya, ah bukan sialnya ... hanya tidak enak saja menurutku, Janet datang mengunjungiku di petcare center waktu istirahat makan siang. Dia membawakan roti isi dan cappucino kesukaanku, dari tempat Roger bekerja sebagai waiter. Sebenarnya mungkin kunjungan itu bisa menjadi hal yang menyegarkan pikiranku, kalau saja dia tidak mengungkit-ungkit masalah yang selama ini kuhindari...
Lokasi : Petcare Center
Pukul : 1.16 PM
-----------------------------
(bunyi bel bergemerincing karena pintu toko dibuka)
Kumi (K) : Selamat si ... ah, Janet! Kukira sapa?
Janet (J) : Hai! Nina mana?
K : Ada di ruang belakang. Kau bawa apa untuk makan siangku?
J : (manyun) Memangnya aku terlihat seperti tukang ransummu?
K : (tertawa kecil) Biasanya kalau kamu kemari kan memang suka bawa makanan.
J : Ini buat Nina. Kamu cari makan siangmu sendiri!
K : Huu! Galak! Diputusin Roger baru tahu rasa!
J : (tertawa) Dasar! Maunya gratisan terus! Nih! Jatah terakhir ya? (menyerahkan bungkusan kecil ke Kumi)
K : (menarik Janet lalu menciumnya) Janeeeeet!! Kau baik sekaliiiii!
J : Hey, hey! Lepaskan aku!
(Nina muncul dari ruang belakang)
Nina (N) : Ah, Janet... sudah kuduga kamu yang datang. Bawa makan siang ya?
J : Kenapa siiihh tiap aku kemari selalu ditagih makan siang?
K : (mengedip) Ah, hitung-hitung kan berbuat baik untuk teman tidak apa-apa.
J : Maunyaaa!
(Kumi dan Nina tertawa)
N : Eh, iya. Kumi, Dr. Robert sudah makan siang?
J : Dr. Robert?
K : Iya. Dokter hewan yang Sarah pekerjakan di sini. Baru seminggu yang lalu. Sekarang ada fasilitas baru. Seminggu sekali ada pemeriksaan.
J : Gratis?
K : Kena charge. Itu masuk sistem paket kok.
J : Oh ...
K : Kenapa? Mau ambil paket?
J : Mau periksa sapa? Aku nggak punya piaraan...
K : Maksudku kamu yang ambil paket..
J : Kamu samain aku dengan Sissy ya??
K : Mungkin berkutu ... hihihi ...
(Janet manyun, Kumi tertawa)
J : Nina... kok diam?
N : Oh, hmm ... nggak apa-apa. Lagi pingin aja. (tersenyum)
J : Eh, iya. Ini aku bawa roti isi sama cappucino. Sampai lupa. Makan di belakang yuk?
N : Aku ... nggak begitu lapar...
J : Ayolah! Masak kamu mau jatahmu diambil Kumi?
K : Hei!
N : Mmm...
J : Kamu nggak kasihan sama aku sudah jauh-jauh kemari?
N : Iya, iya...
J : Gitu, dong! Daa, Kumi! Jaga toko bentar, ya?
(Janet menarik Nina ke ruang belakang, lalu duduk berdua di kursi)
J : (menyerahkan bungkusan cokelat pada Nina)
N : Roti isi?
J : And cappucino too!
N : Dari tempat Roger?
J : Aku nggak akan bawa yang nggak kamu suka (sambil nyengir)
N : (tersenyum) Makasih.
J : Nggak apa-apa. Kamu kalau nggak dibawain seperti ini kadang-kadang kan nggak mau makan. Sarah saja sampai bingung menghadapi kamu.
N : Sarah baik ...
J : Iya, kamu yang nakal. (membuka bekalnya lalu mulai memakan)
N : (ikutan membuka dan makan sedikit ogah-ogahan)
J : Kenapa? Nggak enak?
N : Oh, bukan. Aku ... kan sudah bilang kalau nggak begitu lapar..
J : Sedang memikirkan sesuatu?
N : Ah, bukan ...
J : Nin, aku tahu kita baru dekat belakangan ini. Tapi nggak ada salahnya kan kamu bercerita padaku kalau memang ada masalah? Aku juga sering cerita ke kamu soal orang tuaku, studiku, Roger... malah sepertinya nggak ada satupun yang aku simpan dari kamu.
N : (terdiam)
J : Maksudku, nggak adil rasanya kalau aku terus-terusan yang cerita. Bukan soal aku ingin tahu, tapi aku nggak mau terus-terusan memberikan masalah padamu. Aku juga ingin meringankan bebanmu...
N : Iya aku tahu ...
J : Jadi ... ada apa?
N : Nggak ada apa-apa...
J : Hmm, ya sudah aku nggak maksa kamu kok. Eh, sekarang kan liburan. Kamu nggak pulang ke rumah?
... ah, ini dia pembicaraan yang aku takutkan ...
J : Nin?
N : (kaget sedikit) Ngg.. nggak...
J : Nggak kangen?
N : Hmm ... kangen...
J : Kenapa nggak pulang?
N : Nanti ...
J : Kamu nggak mau bicarain orang rumahmu ya?
N : (terdiam lagi)
J : Apkah aku salah ngomong?
N : Janie...
J : Nah, kalau sudah panggil Janie pasti ada apa-apa. Ada apa sih? Ada masalah dengan orang rumah?
... kurasa aku membenci mereka ...
J : Kalau kamu nggak mau ngomongin...
... sepertinya begitu, jangan memaksaku ...
N : (lagi-lagi terdiam)
J : Tapi aku hanya ingin ...
(Sarah masuk dari toko)
Sarah (S) : Nina? Kau di sini rupanya! Lho, ada Janet?
J : Hai, Sarah! Apa kabarmu?
S : (duduk di dekat mereka berdua) Aku tetanggamu, Janet! Keterlaluan sekali kalau kau tak mendengar kabar tentangku!
J : (tertawa kecil) Berbasa-basi juga perlu, Sarah! Dan aku lupa kalau kau terkenal sekali di kota ini
S : Bukan masalah terkenal! Tapi setidaknya aku teman baik nenekmu!
J : Aku nggak terlalu suka ngerumpiin orang dengan nenek (nyengir)
S : Dasar, anak muda! Kau sudah makan, Nina?
N : Ah, ya ... Janet membawakanku makan siang ...
S : Baguslah! Kau susah sekali kalau disuruh makan (tersenyum). Oh, iya. Sean akan datang besok.
J & N : Besok??
J : Sean? Sean teman kecilku yang nakal itu?
S : Dia tidak nakal. Kau yang nakal ...
N : Kau kenal dia?
J : Kan dia yang selalu menggodaku. Iya, sewaktu sekolah dasar dan SMP kan dia di sini. Satu sekolah dengan Roger.
N : Kau kenal Roger dari kecil??
J : Iya. Kenapa kau kelihatan terkejut? (mengernyitkan dahi) Ada yang salah?
N : (tertawa kecil) Nggak. Pantas saja kalian kelihatan akrab sekali
J : (tersenyum nakal) Hihihi! Aku tak sabar melihat wajah Sean. Pasti udara di tempat tinggalnya yang baru merubahnya habis-habisan.
S: Iya, memang betul. Dan jangan salahkan Sean sampai kau mempunyai keinginan untuk memutuskan Roger... (tersenyum simpul dan bangga)
N : Maksudnya..? (memandang Sarah tak mengerti)
J : Waahhh! Sebegitu gantengnyakah? Roger sudah kuanggap yang nomer satu di kota ini!
S : (tertawa) Besok bantu aku belanja untuk makan malam ya, Nina? Aku akan gantikan kau untuk menjaga toko. Bisa?
N : Tentu. Aku sepertinya butuh udara segar sedikit.
J : Kenapa? Kau merasa nggak enak pikiran ya?
N : Bukan .. aku ...
S : Kau ada masalah?
N : Tidak ... aku hanya ...
.... dan aku terdesak ...
(handphone dari tas Janet berbunyi)
J : Ah, Carie. Sekarang? Tapi kan aku belum selesai makan siang... (agak cemberut) Ya, sudah. Sebentar lagi aku ke sana. Bye...
... dan aku terselamatkan! ...
S : Sudah mau pergi?
N : Ke mana?
J : Carie, manajerku, ada pemotretan.
S : Mulai naik daun kau, ya? (tersenyum)
J : Uuuh, capek.
S : Sudah ayo sana! Bergaya profesional sedikit!
N : Sukses ya..?
J : Iya. (mencium pipi Sarah lalu berdiri) Aku pergi dulu. Nina... kau hutang cerita padaku!
.... dan aku enggan memberitahumu ...
J : Bye! (keluar dari ruang belakang)
S & N : Bye!
S : Kau ada masalah?
N : Tidak. Ehm... (berdiri untuk menghindar) sebaiknya aku kembali ke toko. Kau... masih ada perlu denganku ..?
S : (ikut berdiri dan mengelus pipi Nina) Kalau memang ada masalah, masih ada aku ... (mencium dahi gadis itu lalu memeluknya)
... jangan buat aku meneteskan air mataku ...
N : (berusaha keras untuk tidak menangis!) iya... akan kuingat itu (melepaskan pelukan Sarah pelan). Aku kerja dulu ya?
S : (tersenyum dan mengangguk)
(Nina berjalan ke pintu menuju toko)
S : Nina!
N : (menoleh) Ya..?
S : Jangan terlalu memaksakan diri ...
N : (tersenyum lirih) Aku tahu. (lalu masuk ke toko)
Hatiku terasa sesak saat itu. Terlalu banyak kebaikan yang membuatku terharu. Dan terlalu banyak kesedihan di tempatku yang dulu yang mendorongku untuk semakin ingin melupakannya.
Seandainya waktu berputar dari depan belakang...
Aku akan memilih di waktu sekarang
Di mana aku mendapatkan cinta
Dan merasakan indahnya kehangatan lingkaran kehidupan
Aku tak kan pernah berkeinginan mengembalikan masa ke terdahulu
Seandainya waktu dapat kuhentikan ...
Aku akan memilih untuk berhenti di saat ini
Di mana aku merasakan hidup
Mempunyai arti walaupun hanya sedikit
Seandainya aku memiliki itu ...
Ah, sial ... pikiranku makin buntu ...
#
dB told the story @ 8:22 PM
|