Name :
URL :
Message 
 

by. doneeh.cOm

 

Home

 

[07.03][08.03][05.04][08.04]

 

 

 

 

 

 

 

Monday, August 09, 2004

 

dia diam. aku diam. dan selama seminggu kami saling diam. kalaupun aku masih bisa berpikir jernih lagi, mungkin untuk selamanya kami dengan aksi diam kami. melihatnya tak bergerak juga, aku mengambil sebatang rokok milik Echa yang ada di meja. dan, akhirnya, dia melakukan sesuatu juga walau hanya mengernyitkan dahinya.

"katanya sudah berhenti?" tanyanya, terlalu lugu, di telingaku.
"i quit!" jawabku sambil menyulutnya.
"buktinya ...,"
"i quit from quiting!" suaraku mungkin terdengar galak. aku sudah tak bisa berpikir lagi. "kamu sendiri merokok! kenapa aku tidak boleh??"
"tapi kamu bilang kan sudah berhenti...,"
"my goodness, Cha!! are we gonna discuss my smoking habbit or my pregnancy??" kali aku membentaknya. dan kebiasaan burukku adalah jika aku merasa tertekan dan marah, airmataku mengalir lebih deras. dan sekarang susah payah aku menahannya sampai leherku terasa sakit. Echa sudah kelihatan buram.
Echa terdiam dan membiarkan aku menghirup dalam-dalam rokok sialan itu.
ya, selama seminggu aku mendiamkannya. dan dia pun tak bereaksi seperti yang kuharapkan setelah aku memberitahu kalau hasil tes kehamilan yang kulakukan sekitar sepuluh hari yang lalu memang positif. kaget mungkin, tapi setelah itu ... sama-sama diam tanpa aksi, kebingungan harus berbuat apa.
selama seminggu aku menelan segala macam obat penggugur kandungan yang kucari tahu dari teman-temanku yang pernah mengalaminya , juga dari internet dan ternyata hasilnya ... nihil!
selama seminggu aku menjauhinya karena aku bingung harus bersikap seperti apa padanya. untuk meminta pertanggungjawabannya lebih dari sekedar teman itu menyusahkan aku sendiri, karena kami memang hanya teman tetapi berkelakuan layaknya sepasang suami istri yang sedang mabuk cinta! dan aku tidak mau teranggap sebagai makhluk paling menyebalkan di dunia yang merengek-rengek dan menangis meraung-raung. selama seminggu aku berusaha bertahan untuk tetap tegar demi merawat diriku sendiri dan mencari solusi.
tapi ternyata, sudah cukup aku merasakan kesunyian dan kegilaan di malam hari tanpa hasil itu. sudah cukup air mata terbuang sia-sia karena tak ada reaksi apa-apa darinya dan dari perutku sendiri. semua harus diakhiri!
"lalu?" akhirnya Echa buka suara.
"aku nggak tahu!" suaraku masih saja galak.
"sudah kamu minum obatnya?"
aku memang memberitahu semua usaha yang kulakukan padanya melaui sms.
aku mengangguk pelan lalu menghisap rokokku lagi.
"nggak ada hasil?"
rasanya aku ingin meninju mukanya saat itu juga. kalau ada hasil, mana mungkin kami ada di sini, apalagi aku, dengan muka stress dengan suara lantang dan tak keruan! tapi aku hanya diam, makin lama leherku makin sakit. sebenarnya aku sudah tak kuat lagi menahan genangan air yang ada di kedua mataku ini. tapi bagaimanapun aku harus kuat, setidaknya untuk diriku sendiri, karena aku tak punya siapa-siapa lagi untuk memperhatikan diriku! kualihkan pandanganku ke arah lain agar Echa tak melihat mataku yang berkaca-kaca.
"sepertinya kita harus ke dokter, Len..."
aku masih diam. dan aku sudah tak tahan lagi. berusaha tanpa suara, aku mengeluarkan airmataku secara perlahan. sedikit demi sedikit menghapusnya.
"Len?"
airmataku malah keluar tambah deras. kali ini tidak bisa lagi tanpa suara. aku terisak pelan. makin lama dan pasti, makin keras.
"Len...," kali ini Echa merengkuh bahuku perlahan tapi aku tetap tak mau menatapnya.
Melihat tangisannku, Echa tercekat sebentar lalu kemudian mengelus rambutku perlahan. "maaf...,"
maaf?? jeritku dalam hati. untuk apa???ya tuhan! aku sendiri pun tak tahu harus bereaksi seperti apa. aku memang sudah tak kuat lagi. aku menangis sejadi-jadinya. dan Echa semakin tercekat melihatku.
dan kami pun terdiam lagi setelah itu ....

 

# dB told the story @ 4:56 PM

design:dyslexia@2004

image: image bank